Siapa Itu Latta, Uzza, dan Manat?

Siapa Itu Latta, Uzza, dan Manat?

Pernah dengar nama Latta? Uzza? Manat? Ya, itu adalah patung-patung sesembahan di jazirah Arab sebelum Islam. Di zaman jahiliyahnya, Arab memang masyarakat pagan penyembah berhala dan politeis (memiliki banyak tuhan). Mereka memiliki ribuan berhala untuk dipuja-puji.

Tiga yang paling populer adalah Latta (Allāt, اللات‎), Uzza (Al ‘Uzza, العزى‎), dan Manat (Manāt, مناة). Ketiganya bahkan diabadikan dalam Alquran:
أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى (19) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى(20) أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَى (21) تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى (22) إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى (23)

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Latta, Al Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya. Allah tidak menurunkan keterangan untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka. Sungguh, telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS. An Najm 53: 19-23)
Masyarakat Arab menganggap mereka anak perempuan Allah. Dalam salah satu versi, memang ketiganya adalah dewi-dewi yang biasa disembah orang-orang sana secara turun temurun, Sohib Solutif.

Namun menurut Imam Ibnu Jarir Ath Thabari dalam tafsir Ath Thabari (22/523), Latta adalah orang biasa. “Al latta dulu adalah seorang lelaki yang membuat adonan roti (yang dibagikan secara gratis) kepada jamaah haji. Ketika dia meninggal, orang-orang beri’tikaf di kuburannya dan menyembahnya.”

Ibnu Katsir menambahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir (7/455), “Al latta adalah patung putih yang berukir. Ia ditempatkan dalam sebuah rumah di Tha’if yang memiliki kelambu-kelambu dan juru kunci. Di sekelilingnya terdapat halaman. Latta diagungkan oleh penduduk Tha’if.” Ibnu Katsir kemudian merujuk pada suatu hadis:
“Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhuma, beliau menafsirkan bahwa Latta adalah seorang pria yang membuat adonan roti untuk para jamaah haji.” (HR. Bukhari no. 4859)
Setelah orang saleh itu meninggal, orang-orang mengenang kebaikannya dan mendatangi kuburannya, lalu beribadah di sana. Lama-lama, dia diagungkan dan menjadi berhala yang disembah selain Allah.

Ironis. Orang saleh tetapi masyarakat malah menuhankannya. Itulah akibatnya bila kita terlalu memuji dan mengultuskan seseorang. Awalnya hanya pujian, berikutnya ada yang mulai membuatkannya patung. Selanjutnya, orang-orang beribadah di sana, bahkan secara khusus menyembahnya.

Terdengar familier di sekitar kita? Subhanallah! Ada sebagian dari masyarakat kita, di zaman modern ini, yang masih melakukan itu. Dan ketika diingatkan, mereka berdalih A-Z. Misalnya, bahwa yang dilakukannya sekadar sebagai penghormatan orang saleh yang meninggal. Namun makamnya dianggap keramat dan dianggapnya mampu membantu terkabulnya hajat.

Astaghfirullahal adzim. Sohib Solutif, Allah telah mengidentifikasi ciri-ciri orang semacam ini:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.'” (QS. Az Zumar: 3).
Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam sendiri saja mewanti-wanti umatnya untuk tidak berlebihan mengultuskannya. “Jangan berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani memuja-muji Isa Ibnu Maryam. Karena aku hanyalah hamba-Nya, maka sebutlah aku hamba Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari 3445)

Di hadis lain disebutkan, “Ya Allah, jangan jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Sangat keras murka Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” (HR. Ahmad 13/88, di sahihkan Ahmad Syakir)

Kembali lagi ke Latta, Uzza, dan Manat. Setelah penaklukan Mekah (fathul Makkah) dan posisi Islam lebih kuat secara politik, Nabi Muhammad memerintahkan penghancuran semua berhala. Ini supaya umat yang baru memeluk Islam tidak kembali berpaling ke tradisi penyembahan berhala, terlebih setelah beliau meninggal.

Nah, alangkah lucunya ketika hari ini justru kita membangun batu-batu berhala baru sebagai sarana ibadah. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang menciptakan Latta, Uzza, dan Manat baru. Mari kita ikuti jejak Rasulullah dengan meyakini salat dan berdoa yang terbaik adalah di masjid, atau sekalian di depan Kabah.

- Penulis: Brahmanto Abu Hanifa