"Semua Ini Karena Ayah Saya," Kata Si Kembar

"Semua Ini Karena Ayah Saya," Kata Si Kembar

Pernahkah Anda merasa menyesal memiliki orang tua yang sekarang? Seolah-olah orang tua bisa ditukar tambah di toko. Pernahkah Anda merasa, "Orang tua hampir semua teman saya hebat-hebat, kaya-kaya, tampan atau cantik. Pantas teman-teman saya seperti bibit unggul. Sementara saya?"

Hati-hati, Sohib Solutif. Sikap negatif semacam ini tergolong kufur nikmat. Tidak pandai bersyukur. Seorang ustaz kenamaan pernah mengatakan, "Kalau kita minder, itu artinya kita kafir. Sebab, kita tidak mengakui dan mensyukuri anugerah yang telah Allah berikan. Kufur nikmat tindakannya, kafir orangnya! Meskipun kafirnya tentu bukan dalam hal akidah."

Bukan saja bermasalah dengan Allah, sifat "tidak terima" tersebut dapat menjauhkan kita dari amal-amal birrul-walidain. Malah dalam taraf tertentu, kita bisa jadi begitu benci dan memusuhi orang tua kandung kita. Ini jelas bukan akhlak islami, Sohib Solutif.

Sejelek-jeleknya, sejahat-jahatnya, atau sepecundang-pecundangnya orang tua kita, merekalah yang mengantarkan kita lahir ke indahnya dunia. Merekalah juga yang sudah mengandung dan bersusah payah membesarkan kita.

Maka kalau ada gesekan-gesekan dengan mereka, jangan malah memusuhi mereka. Tinggal bagaimana kita mengatur strategi saja untuk mendekati mereka dan berdamai, atau mengubah sudut pandang kita.

Sebuah stasiun televisi di Amerika Serikat pernah mewawancarai dua saudara kembar yang baru bertemu setelah terpisah selama 30 tahunan. Sekadar catatan, Sohib Solutif, cerita ini tidak jelas sumbernya. Entah karangan yang dibagikan begitu saja dari mulut ke mulut, entah benar-benar ada. Namun, bagaimanapun, hikmah di balik cerita "saudara kembar yang terpisah" ini menarik untuk kita renungi.

Alkisah, sang kakak sudah keluar-masuk penjara dua kali. Dia menjadi gangster, seorang pecandu alkohol, dan sudah bercerai dengan istrinya. Ketika pembawa acara menanyainya mengapa kehidupannya begitu kacau, dia menjawab, "Semua ini karena ayah saya. Dia yang memberi contoh buruk dalam kehidupan saya. Dia juga yang mengalirkan darah buruk ini ke nadi saya, hingga hari ini."

Sekitar 37 tahun lalu, sesaat setelah kakak-beradik itu lahir, ibunya meninggal. Jadilah mereka berdua diasuh secara tunggal oleh ayahnya. Padahal, ayah mereka seorang anggota gang. Dia pemabuk, jarang pulang, dan suka memukuli kedua anaknya.

Tiga puluh tahun yang lalu, sang ayah meninggal karena peluru ketika terjadi bakutembak antargangster. Pengasuhan anak pun diambil alih oleh panti asuhan. Lalu, dua keluarga yang berbeda akhirnya memungut mereka. Di sanalah, mereka terpisah untuk pertama kalinya.

Dengan latar belakang seperti ini, rasanya siapapun akan maklum bila mereka mengikuti jejak buruk ayahnya. Sudah genetika, bagaimana lagi? Buah jatuh takkan jauh dari pohonnya, bukan?

Namun yang tidak disangka-sangka, Sohib Solutif, sang adik justru seorang pebisnis yang sukses. Hidupnya bersih dan tertib. Dia menikah, memiliki dua anak, menjadi tokoh masyarakat, dan dikagumi banyak orang. Saat menerima pertanyaan yang sama oleh pewawancara di studio televisi, dia juga menjawab, "Semua ini karena ayah saya."

Kok, bisa? Bagaimana mungkin ayah kandung yang sama bisa membuat perbedaan yang mencolok di masa depan?

"Saya tidak mau menjadi seperti beliau," lanjut sang adik dalam interview tersebut. "Saya bertekad menciptakan kehidupan yang lebih baik. Baik bagi diri saya sendiri, maupun bagi keluarga saya."

MasyaAllah!

Jadi demikianlah, Sohib Solutif. Semua ini memang tergantung bagaimana cara kita memandang hidup. Sang kakak menjadi rusak karena dia percaya memang keturunan manusia yang rusak.

Sementara sang adik menjadi pebisnis hebat karena dia penuh rasa syukur, berdamai dengan keadaan, dan punya tekad untuk tidak menjadi "sampah" seperti ayahnya.

Sebuah pelajaran bagi kita. Bagaimanapun keadaan orang tua kita, mari kita tetap menghormati mereka. Selalu bersyukur dan jadikan itu semangat untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik.

- Penulis: Brahmanto Abu Hanifa

Komentar